SAMPANG, ARENA.co.id – Tradisi ziarah kubur setelah pelaksanaan Salat Idul Fitri masih menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Madura, khususnya di masyarakat Dusun Mandala, Desa Sejati, Kecamatan Camplong, Kabupaten Sampang. Hingga kini, kebiasaan tersebut tetap terjaga dan dilestarikan sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur serta pengingat akan kehidupan akhirat.
Usai melaksanakan Salat Idul Fitri, masyarakat berbondong-bondong mendatangi makam keluarga. Mereka membawa doa dan harapan, sekaligus menjadikan momen tersebut sebagai ajang silaturahmi antar anggota keluarga yang jarang bertemu.
Di Dusun Mandala, tradisi ini berlangsung dengan khidmat dan penuh kekeluargaan. Warga dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang tua, turut hadir dalam kegiatan tersebut. Suasana kebersamaan tampak begitu kental, mencerminkan nilai gotong royong dan kekompakan yang masih terjaga di tengah masyarakat.
Kegiatan nyekar biasanya diisi dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, khususnya Surah Yasin, yang dilantunkan secara bersama-sama. Selain itu, rangkaian doa dilanjutkan dengan tahlil dan doa untuk para almarhum agar mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT.
Tradisi ini tidak hanya memiliki nilai spiritual, tetapi juga memperkuat ikatan sosial di tengah masyarakat. Kebersamaan yang terjalin saat nyekar menjadi simbol kekompakan dan rasa saling menghormati antar generasi.
Sejumlah tokoh masyarakat setempat menyebutkan bahwa tradisi nyekar merupakan bentuk kearifan lokal yang sarat makna. Selain mendoakan leluhur, kegiatan ini juga menjadi sarana edukasi bagi generasi muda untuk memahami pentingnya menghargai orang tua dan menjaga nilai-nilai budaya.
Meski perkembangan zaman terus berjalan, masyarakat Dusun Mandala tetap berupaya mempertahankan tradisi tersebut agar tidak tergerus modernisasi. Nyekar usai Salat Idul Fitri pun menjadi salah satu identitas budaya religius yang terus hidup dan diwariskan dari generasi ke generasi di wilayah tersebut.

Tinggalkan Balasan