HIKMAH,ARENA.co.id – Kisah pengorbanan Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS, menjadi salah satu peristiwa paling agung dalam sejarah Islam. Perjalanan penuh keikhlasan dan ketundukan kepada perintah Allah SWT itu hingga kini dikenang umat Muslim di seluruh dunia melalui perayaan Hari Raya Idul Adha.

Dikisahkan, Nabi Ibrahim AS dikenal sebagai sosok yang sangat taat dan gemar berkurban di jalan Allah. Dalam sebuah riwayat, beliau pernah menyembelih ribuan hewan kurban, terdiri dari 1.000 ekor domba, 300 ekor sapi, dan 100 ekor unta. Pengorbanan besar tersebut membuat banyak orang kagum, bahkan para malaikat turut memuji ketulusannya.

Namun bagi Nabi Ibrahim, semua itu belum seberapa dibanding kecintaannya kepada Allah SWT. Dengan penuh keyakinan, beliau pernah bernazar bahwa apabila dikaruniai seorang anak laki-laki, maka anak tersebut akan dikurbankan demi menjalankan perintah Allah.

Waktu terus berlalu hingga nazar itu sempat terlupakan. Saat berada di Baitul Maqdis, Nabi Ibrahim memanjatkan doa agar diberikan keturunan. Allah SWT kemudian mengabulkan permohonannya dengan lahirnya seorang putra yang diberi nama Ismail.

Tahun demi tahun berlalu, Ismail tumbuh menjadi anak yang saleh dan patuh kepada orang tua. Ketika usianya mulai beranjak remaja, Nabi Ibrahim mendapat mimpi yang mengguncang hatinya. Dalam mimpi itu, beliau diperintahkan untuk menunaikan nazarnya dengan menyembelih putranya sendiri.

Pada awalnya, Nabi Ibrahim merenungkan mimpi tersebut dan bertanya-tanya apakah itu benar berasal dari Allah SWT atau hanya godaan setan. Peristiwa perenungan itu kemudian dikenal sebagai Hari Tarwiyah yang jatuh pada 8 Zulhijah.

Keesokan malamnya, mimpi serupa kembali datang. Kali ini beliau mulai meyakini bahwa perintah tersebut benar-benar wahyu dari Allah SWT. Hari itu kemudian dikenal sebagai Hari Arafah, yang berarti mengetahui atau memahami.

Malam berikutnya, perintah itu datang semakin jelas. Nabi Ibrahim harus menyembelih Ismail sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT.

Dengan hati yang penuh haru, Nabi Ibrahim memeluk putranya sambil meneteskan air mata hingga waktu Subuh tiba. Sebelum berangkat menuju Mina, beliau meminta istrinya, Hajar, untuk mempersiapkan Ismail dengan pakaian terbaik.

Tanpa mengetahui apa yang sebenarnya akan terjadi, Hajar menyiapkan putranya dengan penuh kasih sayang. Sementara itu, Nabi Ibrahim membawa Ismail menuju Mina dengan sebilah golok dan tali di tangannya.

Di tengah perjalanan, Iblis berusaha menggoda mereka agar membatalkan perintah Allah. Namun keteguhan iman keluarga Nabi Ibrahim tidak goyah sedikit pun. Bahkan ketika Iblis mencoba menakut-nakuti Ismail, sang putra justru menunjukkan ketundukan luar biasa.

“Jika itu perintah Allah, maka aku siap menjalankannya,” jawab Ismail dengan penuh keikhlasan.

Menurut riwayat, Ismail kemudian mengambil kerikil dan melemparkannya kepada Iblis hingga pergi. Peristiwa itu diyakini menjadi asal mula ritual lempar jumrah dalam ibadah haji.

Sesampainya di Mina, Nabi Ibrahim akhirnya menyampaikan isi mimpinya kepada sang anak.

“Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu?” sebagaimana tercantum dalam Al-Qur’an Surah Ash-Shaffat ayat 102.

Dengan penuh kesabaran dan keyakinan, Ismail menjawab bahwa dirinya siap menjalankan perintah Allah SWT. Jawaban itu membuat Nabi Ibrahim semakin mantap menjalankan ujian terbesar dalam hidupnya.

Saat proses penyembelihan hendak dilakukan, Nabi Ibrahim menelungkupkan wajah Ismail agar rasa iba tidak menggagalkan ketaatannya. Namun ketika golok digerakkan ke leher Ismail, Allah SWT menunjukkan kuasa-Nya. Golok itu sama sekali tidak melukai tubuh Ismail.

Allah SWT kemudian berfirman bahwa peristiwa tersebut adalah ujian yang nyata bagi Nabi Ibrahim dan keluarganya. Sebagai pengganti Ismail, Allah mengirim seekor domba dari surga melalui Malaikat Jibril untuk dijadikan kurban.

Momen itu menjadi simbol kemenangan iman, keikhlasan, dan kepasrahan kepada Allah SWT. Sejak saat itu, syariat kurban terus dijalankan umat Islam hingga sekarang sebagai bentuk meneladani pengorbanan Nabi Ibrahim AS dan keluarganya.

Takbir yang dikumandangkan pada Hari Raya Idul Adha juga diyakini berasal dari peristiwa agung tersebut, ketika Malaikat Jibril mengucapkan “Allahu Akbar”, lalu dijawab Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail dengan kalimat pujian kepada Allah SWT. Hingga kini, gema takbir itu terus menjadi pengingat tentang arti keimanan, ketulusan, dan pengorbanan sejati dalam kehidupan umat Muslim.