JAKARTA,ARENA.co.id – Janji garansi semestinya menjadi bentuk perlindungan bagi konsumen ketika produk yang dibeli mengalami kerusakan. Namun, pengalaman seorang pembeli berinisial DP terhadap pembelian SSD 128 GB melalui toko eaonline justru memunculkan tanda tanya mengenai mekanisme layanan purna jual yang ditawarkan.
DP mengaku membeli SSD tersebut melalui kanal penjualan yang terafiliasi dengan akun TikTok Infinity Technologi. Produk ditawarkan dengan mencantumkan fasilitas garansi, yang menjadi salah satu pertimbangan DP sebelum melakukan pembelian.
Persoalan muncul ketika SSD tersebut mengalami masalah kurang dari satu bulan setelah digunakan.
Sebagai konsumen, DP kemudian berupaya mengajukan klaim garansi. Namun, alih-alih mendapatkan penyelesaian yang mudah, ia mengaku harus melewati proses yang dinilai berbelit-belit.
Menurut DP, pihak Infinity Technologi mengarahkan persoalan tersebut kepada toko penjual. DP kemudian mengirimkan kembali barang yang bermasalah tersebut.
Yang menjadi persoalan, biaya pengiriman menurut pengakuannya justru harus ditanggung oleh pembeli.
“Klaim garansinya ribet. Penjual di TikTok, dalam hal ini Infinity Technologi, melempar ke toko. Barang sudah saya kembalikan, biaya ongkir ditanggung pembeli, bahkan melalui COD. Tetapi barang malah kembali lagi ke penjual tanpa menghubungi saya melalui telepon maupun WhatsApp,” kata DP.
Barang Kembali, Konsumen Justru Tidak Mendapat Kepastian
Kondisi tersebut menjadi bagian yang paling dipersoalkan DP. Setelah barang dikembalikan, ia mengaku tidak memperoleh komunikasi yang jelas mengenai status klaim maupun alasan barang tersebut kembali kepada pihak penjual.
Bagi konsumen, persoalannya bukan semata-mata SSD mengalami kerusakan. Produk elektronik memang memiliki kemungkinan mengalami gangguan. Yang dipertanyakan adalah bagaimana penjual menjalankan tanggung jawab setelah konsumen menggunakan fasilitas garansi yang ditawarkan saat transaksi.
Jika produk memang masih berada dalam masa garansi, konsumen tentu berharap terdapat prosedur yang jelas: barang diterima, kondisi diperiksa, hasil pemeriksaan disampaikan, kemudian dilakukan perbaikan, penggantian atau penyelesaian lain sesuai ketentuan garansi.
Namun, berdasarkan pengalaman yang disampaikan DP, alur tersebut justru dinilai tidak memberikan kepastian.
Garansi Dipertanyakan: Perlindungan Konsumen atau Sekadar Daya Tarik Penjualan?
Pengalaman tersebut akhirnya membuat DP mempertanyakan keberadaan label garansi yang dicantumkan dalam penjualan produk.
Menurutnya, garansi seharusnya bukan sekadar tulisan dalam materi promosi untuk meyakinkan calon pembeli. Garansi semestinya menjadi komitmen nyata penjual ketika konsumen menghadapi persoalan setelah transaksi.
“Kalau proses klaimnya seperti ini, saya mempertanyakan garansi itu sebenarnya bagaimana. Jangan sampai garansi hanya menjadi daya tarik untuk membuat orang membeli, tetapi ketika barang bermasalah konsumen justru dipersulit,” ujar DP.
Pernyataan tersebut merupakan penilaian dan pengalaman pribadi DP sebagai konsumen. Belum ada keterangan dari pihak eaonline maupun Infinity Technologi yang menjelaskan secara rinci mengenai mekanisme garansi produk tersebut.
Karena itu, pertanyaan publik yang muncul bukan hanya mengenai kualitas SSD 128 GB yang dipersoalkan, tetapi juga mengenai standar layanan purna jual yang diberikan kepada konsumen.
Transparansi Klaim Menjadi Kunci
Kasus ini juga menunjukkan pentingnya transparansi dalam transaksi produk elektronik melalui platform digital. Konsumen perlu mengetahui dengan jelas siapa pihak yang bertanggung jawab terhadap garansi, ke mana barang harus dikirim, siapa yang menanggung biaya pengiriman, berapa lama proses pemeriksaan, serta bagaimana prosedur apabila klaim dinyatakan diterima atau ditolak.
Di sisi lain, penjual dan pihak afiliasi juga semestinya memiliki mekanisme komunikasi yang jelas agar konsumen tidak berada dalam posisi saling lempar tanggung jawab.
Hingga berita ini disusun, keluhan tersebut masih merupakan versi dari pihak pembeli. Media tetap membuka ruang bagi eaonline dan Infinity Technologi untuk memberikan klarifikasi maupun hak jawab terkait kronologi, prosedur klaim garansi, biaya pengiriman, serta alasan barang tersebut kembali kepada pihak penjual.
Kasus DP menjadi catatan penting bagi konsumen lain agar tidak hanya tergiur harga dan spesifikasi produk, tetapi juga mencermati reputasi penjual, ketentuan garansi, serta mekanisme klaim sebelum melakukan transaksi.

Tinggalkan Balasan